Pasar Ngasem

Berbicara tentang Yogyakarta rasanya tak bisa dilepaskan tentang keberadaan pasar burung Ngasem yang lokasinya hanya berjarak 400 meter disebelah barat Kraton. Lokasi pasar yang strategis menjadi tempat pertukaran informasi penting tentang apa yang dianggap bergengsi di masa kerajaan dahulu. Setelah kuda sebagai alat transportasi dan keris sebagai senjata, burung ada di tempat ketiga sebagai pengukur status sosial pada masa itu. Pasar Ngasem seperti menjadi istana kedua bagi para kerabat kraton ataupun masyarakat, karena dari sanalah masyarakat kelas menengah kebawah bisa bertatap muka dan berdialog dengan para bangsawan yang biasa disebut ndoro menggunakan bahasa bagongan, bahasa yang tidak mengenal strata antara majikan dan bawahan untuk menawarkan berbagai macam burung dengan keindahan warna dan suaranya. Sebuah bukti berupa foto menunjukkan bahwa Pasar burung Ngasem telah ada sejak tahun 1809. Letaknya yang tak jauh dari Kraton dimaksudkan agar para bangsawan mudah mengaksesnya. Sekitar tahun 1960-an, pasar ini semakin identik dengan burung setelah pedagang burung dari pasar Beringharjo dipindahkan ke tempat ini. Bukan hal mengherankan bila banyak turis menyebut pasar ini dengan bird market karena areal perdagangan burung sepertiga dari luas pasar. Nuansa yang berbeda sering kita dapati. di pasar ini, pengunjung tidak hanya disuguhi keindahan warna-warni burung saja, tetapi juga pertunjukan yang sesekali digelar oleh para pecinta burung. Misalnya, pertunjukan keahlian burung merpati untuk terbang cepat kembali ke kandang atau adu kemerduan suara berbagai macam burung. Dari pertunjukan itulah biasanya ada calon pembeli yang merasa tertarik dan kemudian rela membayar berapa pun harganya. Selain burung merpati, dapat kita temukan spesies reptil seperti ular, biawak dan iguana. Binatang peliharaan lain yang dijual adalah ikan hias, hamster, anjing, kucing, kura-kura, kuskus, berbagai jenis ayam hingga kelici lokal maupun ras. Seperti pasar tradisional pada umumnya Ngasem juga menawarkan berbagai macam jajanan khas bagi para pengunjung yang merasa haus ataupun lapar. Dari soto, nasi rames, gethuk, thiwul, jenang gempol, es dawet, dan aneka macam gorengan seperti tahu susur, tempe bacem, rengginang, krupuk rambak, peyek kacang menjadi kesatuan yang unik dan daya tarik tersendiri ketika berkunjung kesana.pasar ngasem 600x272 Pasar Ngasem

Terkait dengan relokasi  pasar ngasem  ke Bursa Agro Jogja (BAJ) di Jalan Bantul, pihak pemprov sudah mensosialisasikan rencana tersebut sekitar tiga tahun yang lalu. Relokasi ini terkait dengan revitalisasi Kawasan Tamansari Kraton Yogya yang pada intinya mengamankan cagar budaya. Revitalisasi ini menyangkut berbagai aspek termasuk penataan Pasar Ngasem yang rencananya akan diganti menjadi pasar kerajinan dan kuliner. Sebagai salah satu daya tarik kota Yogya. Pasar ngasem saat ini tidak lagi menawarkan kenyamanan cenderung kumuh, seperti pasar tradisional di kota lain. Terlepas dari itu semua sepertinya pemerintah sedikit gegabah dalam proyek kali ini.  Pemindahan pasar ngasem yang tidak jelas akan berdampak buruk terhadap pencitraan yogyakarta sebagai kota budaya. Pemerintah harus lebih jeli melihat keadaan, jangan sampai budaya itu diartikan secara artifisial, harusnya bersifat internasional bukannya regional tutur kompi setyoko selaku ketua Kampung Budaya Tamansari(KBT) sekaligus pemilik café Water Castle.  Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Yogyakarta Aman Yuriadijaya menyatakan, Setelah relokasi, rencana revitalisasi Pasar Ngasem menjadi pasar tradisional dan cinderamata yang terintegrasi dengan Tamansari bisa segera dilaksanakan. Untuk revitalisasi ini telah disiapkan dana Rp 3,7 miliar dari APBD Provinsi DIY,  kata Aman. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah pemindahan pasar burung Ngasem ini sudah tepat atau pertanda lunturnya sebuah kebudayaan?