Kerajinan Perak Kotagede No ratings yet.

Perak ProcessingKerajinan perak Kotagede bermula dari kebiasaan para abdi dalem kriya Kotagede membuat barang-barang keperluan Kraton untuk memenuhi kebutuhan akan perhiasan atau perlengkapan lainnya bagi Raja dan Kraton serta kerabat-kerabatnya. Lokasi perajin perak ada di hampir setiap sudut Kotagede dari pasar kotagede hingga Masjid Agung dan bekas Istana Mataram Islam. Dan hampir sepanjang jalan Kotagede terdapat puluhan toko, perajin maupun koperasi kerajinan perak. Jika saja keraton Yogyakarta pada saat itu terutama pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII beliau tidak menaruh minat pada hasil-hasil kerajinan logam perak di Kotagede, mungkin keadaan Kotagede tidak akan setenar seperti sekarang ini, yang sangat masyur dengan kerajinan peraknya.Perak Processing

Perak berasal dari kata bahasa latin “Argentum”, logam ini biasanya digunakan untuk membuat uang logam, perhiasan, sendok, atau menurut kabar dapat digunakan juga untuk mebuat bantalan mesin pesawat terbang. Kotagede adalah sentra kerajinan perak yang sudah terkenal sejak jaman dulu. Menurut catatan Djoko Soekiman, sudah sejak abad ke-16 (masa kerajaan Mataram Islam), Kotagede muncul sebagai pusat perdagangan yang cukup maju; hal ini ditandai dengan sebutan lain untuk kotagede, yaitu Sar Gede atau Pasar Gede yang dapat diartikan sebagai ‘pasar besar’ (pusat perdagangan yang besar). Nama-nama daerah di sekitar Kotagede pun sering dikaitkan dengan nama-nama yang terkait dengan sebuah kerajinan, sebagai contoh nama daerah Samakan, ini diambil dengan makna sebagai tempat tinggal para pengrajin kulit kala itu, kemudian ada nama Sayangan, yaitu sebagai tinggal para pengrajin barang dari bahan tembaga dan perunggu), Batikan (tempat tinggal para pengrajin batik), dan Pandean (tempat tinggal para pengrajin besi).Perak Processing

Kerajinan perak di Kotagede muncul bersamaan dengan berdirinya Kotagede sebagai ibu kota Mataram Islam pada abad ke-16. Ada bukti yang menunjukkan bahwa seni kerajinan perak, emas, dan logam pada umumnya telah dikenal sejak abad ke-9 (zaman Mataram Kuna/Hindu) dengan diketemukannya prasasti di Jawa Tengah yang di dalamnya termuat istilah pande emas, pande perak, pande wesi, dan sebagainya. Perkembangan perusahaan perak Kotagede mengalami masa keemasan antara tahun 1930—1940-an dengan munculnya perusahan-perusahaan baru, peningkatan kualitas, dan diciptakannya berbagai motif baru.Perak Processing

Industri perak mulai berkembang dan merambah pasaran dunia ketika Kotagede kedatangan seorang pedagang bangsa Belanda yang memesan barang-barang keperluan rumah tangga Eropa dengan bahan perak. Barang-barang tersebut berupa tempat lilin, perabotan makan minum, piala, asbak, tempat serbet, dan perhiasan dengan gaya Eropa ber motif khas Yogyakarta didominasi bentuk daun-daun, bunga, dan lung (sulur). Ternyata pesanan itu diminati orang-orang Eropa. Sejak saat itu berbagai order berdatangan dengan jumlah yang terus melambung. Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas, pemerintah Hindia Belanda mendirikan satu lembaga khusus, yaitu Stichting Beverdering van het Yogyakarta Kenst Ambacht (disebut juga Pakaryan Ngayogyakarta). Lembaga ini memberikan pelatihan tentang teknik pembuatan kerajinan perak dan pengembangan akses pasar. Kegiatannya antara lain mengikuti Pekan Raya di Jepang tahun 1937 dan di Amerika tahun 1938.

Please rate this


Recent Post